Jumat, 09 Oktober 2026

PERUBAHAN KURIKULUM VS PERUBAHAN MINSED GURU

Gambar by:www.kpiconsultancy.com
 

Kurikulum Boleh Berubah, Tetapi Apakah Kita Berubah?

“Sudah berapa kali kita mengalami perubahan kurikulum ?”

Pertanyaan sederhana ini mungkin akan menghasilkan jawaban yang berbeda-beda, terutama jika ditanyakan kepada guru yang telah mengabdi selama puluhan tahun. Mereka mungkin pernah mengalami Kurikulum 1994, KBK, KTSP, Kurikulum 2013, hingga kurikulum yang berlaku saat ini, dengan berbagai penyesuaian dan istilah yang menyertainya.

Setiap perubahan membawa harapan.

Ada kurikulum baru, ada istilah baru, ada pendekatan pembelajaran baru, ada perangkat yang harus disiapkan, ada pelatihan yang harus diikuti, dan tentu saja ada tuntutan agar guru menyesuaikan praktik pembelajarannya dengan baik.

Namun setelah beberapa kali mengalami perubahan, tidak sedikit guru yang kemudian sampai pada sebuah kesimpulan sederhana “males berubah”.

Pengalaman Saya sebagai Pengawas Sekolah ketika mencoba memetakan pola fikir Guru di sekolah binaan khusunya tentang perubahan yang terjadi pada Kurikulum, dari 165 orang sampel ternyata hanya 58 [35,15 %] guru yang benar-benar sudah memiliki Growth Minsed [PPB] atau memiliki Pola Pikir Bertumbuh. Mengapa demikian ? apa penyebabnya ? dana pa yang harus kita lakukan ? pertanyaan –pertanyaan ini kita coba cari jawabannya melalui tulisan singkat ini

“Kurikulum boleh berubah, tetapi apakah hasil pendidikan benar-benar berubah?”

Bagi sebagian guru, pertanyaan itu mungkin bukan bentuk penolakan terhadap perubahan. Pertanyaan tersebut lahir dari pengalaman.

Mereka telah melihat berbagai perubahan datang dan pergi. Mereka telah mengikuti berbagai pelatihan. Mereka telah mencoba berbagai pendekatan pembelajaran. Mereka juga telah melihat berbagai kebijakan pendidikan diterapkan di sekolah.

Namun dalam pandangan mereka, perubahan tersebut belum selalu menghasilkan perubahan yang sebanding dengan kualitas pendidikan yang diharapkan.

Pengalaman semacam ini patut didengarkan.

Sebab jika kita ingin memahami mengapa sebagian guru menjadi kurang antusias terhadap perubahan kurikulum, kita tidak cukup hanya mengatakan bahwa mereka memiliki fixed mindset atau tidak mau berubah.

Kita perlu memahami terlebih dahulu bagaimana keyakinan tersebut terbentuk.

Ketika pengalaman membentuk keyakinan

Manusia belajar bukan hanya dari buku dan pelatihan, manusia juga belajar dari pengalaman.

Seorang guru yang berkali-kali mengalami perubahan kebijakan, tetapi melihat bahwa praktik pendidikan di lapangan relatif tidak banyak berubah, sangat mungkin membangun suatu keyakinan tertentu.

Mungkin muncul dalam pikirannya:

“Perubahan seperti ini sudah pernah kita alami.”

“Nanti juga akan berubah lagi.”

“Istilahnya berbeda, tetapi praktiknya hampir sama.”

“Kita sudah mengikuti berbagai pelatihan, tetapi masalah pendidikan tetap saja ada.”

Keyakinan tersebut tidak muncul dalam satu malam.

Ia terbentuk melalui pengalaman yang berulang.

Di sinilah kita perlu berhati-hati ketika menggunakan istilah fixed mindset. Jangan sampai istilah tersebut justru digunakan untuk menyalahkan guru.

Seorang guru yang skeptis terhadap perubahan belum tentu sejak awal memiliki pola pikir yang tertutup.

Bisa jadi ia sedang membawa pengalaman masa lalu ke dalam cara pandangnya terhadap perubahan yang baru.

Persoalannya kemudian adalah: apakah pengalaman masa lalu selalu dapat menjadi dasar yang tepat untuk menilai perubahan yang sedang berlangsung?

Jawabannya tentu tidak selalu.

Pengalaman adalah sumber pembelajaran yang penting, tetapi pengalaman juga perlu ditafsirkan dan diuji kembali.

Perubahan kurikulum bukan sekadar perubahan dokumen

Kurikulum sering kali hadir dalam bentuk dokumen yang harus dipahami dan dilaksanakan oleh sekolah dan guru, namun pendidikan tidak berlangsung di dalam dokumen, Pendidikan berlangsung di ruang kelas.

Di sana ada guru, peserta didik, lingkungan sekolah, keluarga, masyarakat, fasilitas, budaya belajar, serta berbagai kondisi nyata yang memengaruhi proses pembelajaran.

Karena itu, keberhasilan suatu perubahan kurikulum pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh seberapa baik dokumen kurikulum dirumuskan.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Apa yang berubah dalam praktik pembelajaran?

Apakah guru memahami alasan perubahan?

Apakah guru memahami konsep yang mendasarinya?

Apakah guru mengetahui bagaimana menerapkannya?

Apakah sekolah memberikan ruang untuk mencoba?

Apakah guru memperoleh kesempatan untuk merefleksikan hasilnya?

Dan yang tidak kalah penting:

Apakah perubahan tersebut berlangsung cukup lama sehingga hasilnya dapat diamati dan dievaluasi?

Jika perubahan hanya berhenti pada dokumen, pelatihan, dan administrasi, maka sangat mungkin guru akan kembali pada pola lama ketika menghadapi persoalan nyata di kelas.

Bukan karena mereka tidak memiliki kemampuan untuk berubah.

Tetapi karena perubahan belum menjadi pengalaman nyata yang meyakinkan.

Guru sebagai ujung tombak perubahan

Kurikulum dapat dirancang oleh para ahli.

Kebijakan dapat ditetapkan oleh pemerintah.

Panduan dapat ditulis oleh para pengembang kurikulum.

Pelatihan dapat diberikan oleh berbagai lembaga.

Namun pada akhirnya, perubahan pendidikan akan menemukan bentuk nyatanya di sekolah dan terutama dalam proses pembelajaran yang dilakukan guru.

Karena itu, guru bukan sekadar pelaksana kurikulum.

Guru adalah salah satu aktor utama yang menentukan apakah gagasan dalam kurikulum benar-benar menjadi praktik pendidikan.

Posisi ini sekaligus menunjukkan bahwa perubahan kurikulum tidak mungkin hanya dibebankan kepada guru.

Guru membutuhkan pemahaman.

Guru membutuhkan dukungan.

Guru membutuhkan waktu untuk mencoba.

Guru membutuhkan ruang untuk gagal dan memperbaiki.

Dan yang lebih penting, guru membutuhkan alasan yang masuk akal untuk percaya bahwa perubahan tersebut memang layak diperjuangkan.

Jika guru hanya diminta untuk berubah tanpa memahami mengapa harus berubah, maka perubahan mudah menjadi kewajiban administratif.

Sebaliknya, jika guru memahami alasan perubahan, memahami landasan teorinya, melihat bukti yang mendukungnya, dan memperoleh kesempatan untuk menguji penerapannya di kelas, perubahan dapat menjadi proses profesional.

Dari “saya sudah pernah mengalami” menuju “mari kita lihat kembali”

Pengalaman masa lalu memang penting.

Seorang guru tidak harus melupakan apa yang telah dialaminya hanya karena datang kurikulum baru.

Justru pengalaman tersebut dapat menjadi modal yang sangat berharga.

Yang perlu diubah bukanlah pengalaman masa lalu, melainkan cara kita menggunakan pengalaman tersebut.

Ada perbedaan antara mengatakan:

“Saya sudah pernah mengalami perubahan seperti ini, dan hasilnya tidak banyak berubah.”

dengan mengatakan:

“Saya sudah pernah mengalami perubahan seperti ini. Apa yang dapat kita pelajari dari pengalaman tersebut agar perubahan kali ini lebih baik?”

Kalimat pertama menutup kemungkinan.

Kalimat kedua membuka kemungkinan.

Perbedaannya tampak kecil, tetapi secara psikologis dan profesional sangat besar.

Yang pertama menjadikan pengalaman sebagai kesimpulan akhir.

Yang kedua menjadikan pengalaman sebagai bahan untuk belajar kembali.

Mungkin di sinilah salah satu makna penting growth mindset dalam konteks perubahan kurikulum.

Growth mindset tidak harus dimaknai sebagai keyakinan bahwa semua perubahan pasti berhasil.

Bukan pula keyakinan bahwa guru harus selalu menerima setiap kebijakan baru tanpa bertanya.

Sebaliknya, growth mindset dapat dipahami sebagai kesediaan untuk mengatakan:

“Saya belum tahu apakah perubahan ini akan berhasil. Karena itu, saya bersedia memahaminya, mencobanya, mengamati hasilnya, dan memperbaikinya berdasarkan pengalaman dan bukti.”

Sikap seperti ini jauh lebih dekat dengan semangat keilmuan.

Guru tidak harus menerima semuanya tanpa berpikir

Ada hal lain yang juga penting.

Mengajak guru terbuka terhadap perubahan tidak berarti meminta guru menerima setiap perubahan tanpa pertanyaan.

Guru adalah seorang profesional.

Sebagai profesional, ia justru harus mampu bertanya.

Mengapa pendekatan ini digunakan?

Apa dasar pemikirannya?

Apa bukti bahwa pendekatan ini dapat membantu peserta didik?

Apa yang harus berubah dalam praktik pembelajaran?

Apa yang mungkin menjadi kendala?

Bagaimana keberhasilannya dapat diketahui?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan tanda bahwa guru menolak perubahan.

Justru pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa guru sedang menempatkan dirinya sebagai pembelajar profesional.

Guru yang kritis tidak sama dengan guru yang menolak.

Demikian pula guru yang menerima perubahan tidak selalu berarti guru yang memahami perubahan.

Yang kita harapkan adalah guru yang terbuka sekaligus kritis.

Terbuka terhadap kemungkinan bahwa sesuatu yang baru mungkin lebih baik.

Kritis untuk memastikan bahwa sesuatu yang baru memang layak diterapkan.

Sekolah sebagai ruang belajar bersama

Perubahan kurikulum juga tidak seharusnya menjadi urusan guru secara individual.

Sekolah perlu menjadi ruang belajar bersama.

Guru dapat mendiskusikan pengalaman.

Kepala sekolah dapat memberikan dukungan.

Guru dapat mencoba suatu pendekatan dalam pembelajaran.

Hasilnya dapat diamati.

Kesulitan dapat dibicarakan.

Praktik yang berhasil dapat dibagikan.

Praktik yang belum berhasil dapat diperbaiki.

Dengan demikian, perubahan tidak lagi dipahami sebagai instruksi dari atas yang harus segera dilaksanakan, tetapi sebagai proses belajar bersama di tingkat sekolah.

Jika sekolah mampu membangun budaya seperti ini, perubahan kurikulum memiliki peluang yang lebih besar untuk menjadi perubahan praktik, bukan sekadar perubahan administrasi.

Jangan sampai pengalaman masa lalu menjadi penghalang masa depan

Guru senior memiliki sesuatu yang sangat berharga: pengalaman.

Pengalaman bertahun-tahun di ruang kelas tidak dapat digantikan begitu saja oleh sebuah pelatihan.

Namun pengalaman memiliki dua kemungkinan.

Pengalaman dapat menjadi sumber kebijaksanaan.

Tetapi pengalaman juga dapat menjadi batas cara berpikir, jika setiap pengalaman masa lalu dianggap sebagai bukti bahwa sesuatu yang baru pasti akan berakhir dengan cara yang sama.

Karena itu, tantangannya bukan memilih antara pengalaman atau perubahan.

Kita justru perlu mempertemukan keduanya.

Pengalaman memberi kita pijakan.

Ilmu memberikan cara untuk menguji.

Perubahan memberikan kemungkinan.

Refleksi membantu kita menentukan apa yang harus dipertahankan dan apa yang perlu diperbaiki.

Dalam posisi seperti ini, guru senior dan guru muda sesungguhnya memiliki peran yang saling melengkapi.

Guru senior memiliki pengalaman yang panjang.

Guru yang lebih muda mungkin membawa perspektif baru.

Keduanya dapat belajar satu sama lain.

Yang dibutuhkan bukan pergantian generasi dalam cara berpikir, tetapi dialog antargenerasi dalam pendidikan.

Pada akhirnya, yang harus berubah bukan hanya kurikulum nya

Kurikulum dapat berubah berkali-kali.

Tetapi perubahan kurikulum tidak akan banyak berarti jika tidak diikuti dengan proses perubahan dalam cara kita memahami pendidikan.

Kita perlu bertanya kembali:

Apa tujuan pendidikan yang ingin kita capai?

Apa yang sebenarnya dibutuhkan peserta didik?

Bagaimana peserta didik belajar?

Bagaimana guru seharusnya menjalankan perannya?

Bagaimana sekolah menciptakan lingkungan belajar?

Dan bagaimana kita mengetahui bahwa perubahan yang kita lakukan benar-benar menghasilkan perbaikan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat perubahan kurikulum menjadi lebih dari sekadar pergantian dokumen.

Ia menjadi kesempatan untuk belajar kembali tentang pendidikan.

Mungkin kita tidak dapat menjamin bahwa setiap perubahan kurikulum akan menghasilkan perubahan besar.

Tidak ada kebijakan pendidikan yang dapat menjamin keberhasilan secara otomatis.

Tetapi kita dapat memilih bagaimana kita menyikapinya.

Kita dapat memilih untuk mengatakan:

“Saya sudah pernah mengalami semuanya. Tidak ada gunanya mencoba lagi.”

Atau kita dapat mengatakan:

“Saya sudah memiliki banyak pengalaman. Mari kita gunakan pengalaman itu untuk melihat apakah perubahan kali ini dapat dilakukan dengan lebih baik.”

Pilihan kedua bukan berarti naif.

Ia justru membutuhkan keberanian.

Sebab seorang guru yang telah berkali-kali mengalami perubahan mungkin memiliki alasan yang cukup kuat untuk menjadi skeptis.

Namun seorang profesional juga memiliki tanggung jawab untuk terus menguji keyakinannya sendiri.

Pengalaman boleh membentuk keyakinan, tetapi pengalaman tidak seharusnya membelenggu pikiran.

Kurikulum boleh berubah.

Kebijakan boleh berubah.

Pendekatan pembelajaran boleh berkembang.

Tetapi yang paling penting adalah bagaimana kita sebagai pendidik terus bersedia belajar, menguji, merefleksikan, dan memperbaiki praktik pendidikan kita.

Sebab pada akhirnya, perubahan pendidikan tidak terjadi ketika sebuah dokumen baru diterbitkan.

Perubahan mulai terjadi ketika guru di ruang kelas bersedia melihat kembali cara berpikir dan cara mengajarnya—bukan karena ia diperintah untuk berubah, tetapi karena ia menemukan alasan keilmuan dan profesional untuk berubah.

Tidak ada komentar:

⭐ Pilihan Untuk Anda

Membangun Komunitas, Menyegarkan Motivasi

  PLC: Komunitas yang bukan sekadar rapat: Catatan dari Komunitas Belajar Galang Oleh: Hendri Afrinal, M.Pd Ada masa ketika saya melihat...