![]() |
| Gambar by:www.kpiconsultancy.com |
Kurikulum Boleh Berubah, Tetapi
Apakah Kita Berubah?
“Sudah
berapa kali kita mengalami perubahan kurikulum ?”
Pertanyaan
sederhana ini mungkin akan menghasilkan jawaban yang berbeda-beda, terutama
jika ditanyakan kepada guru yang telah mengabdi selama puluhan tahun. Mereka
mungkin pernah mengalami Kurikulum 1994, KBK, KTSP, Kurikulum 2013, hingga
kurikulum yang berlaku saat ini, dengan berbagai penyesuaian dan istilah yang
menyertainya.
Setiap
perubahan membawa harapan.
Ada
kurikulum baru, ada istilah baru, ada pendekatan pembelajaran baru, ada
perangkat yang harus disiapkan, ada pelatihan yang harus diikuti, dan tentu
saja ada tuntutan agar guru menyesuaikan praktik pembelajarannya dengan baik.
Namun
setelah beberapa kali mengalami perubahan, tidak sedikit guru yang kemudian
sampai pada sebuah kesimpulan sederhana “males berubah”.
Pengalaman
Saya sebagai Pengawas Sekolah ketika mencoba memetakan pola fikir Guru di
sekolah binaan khusunya tentang perubahan yang terjadi pada Kurikulum, dari 165
orang sampel ternyata hanya 58 [35,15 %] guru yang benar-benar sudah Fixed Minsed [PPB] atau memiliki Pola
Pikir Bertumbuh. Mengapa demikian ? apa penyebabnya ? dana pa yang harus kita
lakukan ? pertanyaan –pertanyaan ini kita coba cari jawabannya melalui tulisan
singkat ini
“Kurikulum
boleh berubah, tetapi apakah hasil pendidikan benar-benar berubah?”
Bagi
sebagian guru, pertanyaan itu mungkin bukan bentuk penolakan terhadap
perubahan. Pertanyaan tersebut lahir dari pengalaman.
Mereka
telah melihat berbagai perubahan datang dan pergi. Mereka telah mengikuti
berbagai pelatihan. Mereka telah mencoba berbagai pendekatan pembelajaran.
Mereka juga telah melihat berbagai kebijakan pendidikan diterapkan di sekolah.
Namun
dalam pandangan mereka, perubahan tersebut belum selalu menghasilkan perubahan
yang sebanding dengan kualitas pendidikan yang diharapkan.
Pengalaman
semacam ini patut didengarkan.
Sebab
jika kita ingin memahami mengapa sebagian guru menjadi kurang antusias terhadap
perubahan kurikulum, kita tidak cukup hanya mengatakan bahwa mereka memiliki fixed
mindset atau tidak mau berubah.
Kita perlu memahami terlebih dahulu bagaimana keyakinan tersebut terbentuk.
Ketika pengalaman membentuk keyakinan
Manusia
belajar bukan hanya dari buku dan pelatihan, manusia juga belajar dari
pengalaman.
Seorang
guru yang berkali-kali mengalami perubahan kebijakan, tetapi melihat bahwa
praktik pendidikan di lapangan relatif tidak banyak berubah, sangat mungkin
membangun suatu keyakinan tertentu.
Mungkin muncul dalam pikirannya:
“Perubahan seperti ini sudah pernah
kita alami.”
“Nanti juga akan berubah lagi.”
“Istilahnya berbeda, tetapi
praktiknya hampir sama.”
“Kita sudah mengikuti berbagai
pelatihan, tetapi masalah pendidikan tetap saja ada.”
Keyakinan tersebut tidak muncul
dalam satu malam.
Ia terbentuk melalui pengalaman yang
berulang.
Di sinilah kita perlu berhati-hati
ketika menggunakan istilah fixed mindset. Jangan sampai istilah tersebut
justru digunakan untuk menyalahkan guru.
Seorang guru yang skeptis terhadap
perubahan belum tentu sejak awal memiliki pola pikir yang tertutup.
Bisa jadi ia sedang membawa
pengalaman masa lalu ke dalam cara pandangnya terhadap perubahan yang baru.
Persoalannya kemudian adalah: apakah
pengalaman masa lalu selalu dapat menjadi dasar yang tepat untuk menilai
perubahan yang sedang berlangsung?
Jawabannya tentu tidak selalu.
Pengalaman adalah sumber
pembelajaran yang penting, tetapi pengalaman juga perlu ditafsirkan dan diuji
kembali.
Perubahan kurikulum bukan sekadar perubahan dokumen
Kurikulum
sering kali hadir dalam bentuk dokumen yang harus dipahami dan dilaksanakan
oleh sekolah dan guru, namun pendidikan tidak berlangsung di dalam dokumen, Pendidikan
berlangsung di ruang kelas.
Di
sana ada guru, peserta didik, lingkungan sekolah, keluarga, masyarakat,
fasilitas, budaya belajar, serta berbagai kondisi nyata yang memengaruhi proses
pembelajaran.
Karena
itu, keberhasilan suatu perubahan kurikulum pada akhirnya tidak hanya
ditentukan oleh seberapa baik dokumen kurikulum dirumuskan.
Pertanyaan yang lebih penting
adalah:
Apa yang berubah dalam praktik
pembelajaran?
Apakah guru memahami alasan
perubahan?
Apakah guru memahami konsep yang
mendasarinya?
Apakah guru mengetahui bagaimana
menerapkannya?
Apakah sekolah memberikan ruang
untuk mencoba?
Apakah guru memperoleh kesempatan
untuk merefleksikan hasilnya?
Dan yang tidak kalah penting:
Apakah
perubahan tersebut berlangsung cukup lama sehingga hasilnya dapat diamati dan
dievaluasi?
Jika
perubahan hanya berhenti pada dokumen, pelatihan, dan administrasi, maka sangat
mungkin guru akan kembali pada pola lama ketika menghadapi persoalan nyata di
kelas.
Bukan
karena mereka tidak memiliki kemampuan untuk berubah.
Tetapi
karena perubahan belum menjadi pengalaman nyata yang meyakinkan.
Guru sebagai ujung tombak perubahan
Kurikulum dapat dirancang oleh para
ahli.
Kebijakan dapat ditetapkan oleh
pemerintah.
Panduan dapat ditulis oleh para pengembang
kurikulum.
Pelatihan dapat diberikan oleh
berbagai lembaga.
Namun pada akhirnya, perubahan
pendidikan akan menemukan bentuk nyatanya di sekolah dan terutama dalam proses
pembelajaran yang dilakukan guru.
Karena itu, guru bukan sekadar
pelaksana kurikulum.
Guru adalah salah satu aktor utama
yang menentukan apakah gagasan dalam kurikulum benar-benar menjadi praktik
pendidikan.
Posisi ini sekaligus menunjukkan
bahwa perubahan kurikulum tidak mungkin hanya dibebankan kepada guru.
Guru membutuhkan pemahaman.
Guru membutuhkan dukungan.
Guru membutuhkan waktu untuk
mencoba.
Guru membutuhkan ruang untuk gagal
dan memperbaiki.
Dan yang lebih penting, guru
membutuhkan alasan yang masuk akal untuk percaya bahwa perubahan tersebut
memang layak diperjuangkan.
Jika guru hanya diminta untuk
berubah tanpa memahami mengapa harus berubah, maka perubahan mudah
menjadi kewajiban administratif.
Sebaliknya, jika guru memahami
alasan perubahan, memahami landasan teorinya, melihat bukti yang mendukungnya,
dan memperoleh kesempatan untuk menguji penerapannya di kelas, perubahan dapat
menjadi proses profesional.
Dari “saya sudah pernah mengalami” menuju “mari kita lihat
kembali”
Pengalaman
masa lalu memang penting.
Seorang guru tidak harus melupakan
apa yang telah dialaminya hanya karena datang kurikulum baru.
Justru pengalaman tersebut dapat
menjadi modal yang sangat berharga.
Yang perlu diubah bukanlah
pengalaman masa lalu, melainkan cara kita menggunakan pengalaman tersebut.
Ada perbedaan antara mengatakan:
“Saya sudah pernah mengalami
perubahan seperti ini, dan hasilnya tidak banyak berubah.”
dengan mengatakan:
“Saya sudah pernah mengalami
perubahan seperti ini. Apa yang dapat kita pelajari dari pengalaman tersebut
agar perubahan kali ini lebih baik?”
Kalimat pertama menutup kemungkinan.
Kalimat kedua membuka kemungkinan.
Perbedaannya tampak kecil, tetapi
secara psikologis dan profesional sangat besar.
Yang pertama menjadikan pengalaman
sebagai kesimpulan akhir.
Yang kedua menjadikan pengalaman
sebagai bahan untuk belajar kembali.
Mungkin di sinilah salah satu makna
penting growth mindset dalam konteks perubahan kurikulum.
Growth mindset tidak harus dimaknai sebagai keyakinan bahwa semua
perubahan pasti berhasil.
Bukan pula keyakinan bahwa guru
harus selalu menerima setiap kebijakan baru tanpa bertanya.
Sebaliknya, growth mindset
dapat dipahami sebagai kesediaan untuk mengatakan:
“Saya
belum tahu apakah perubahan ini akan berhasil. Karena itu, saya bersedia
memahaminya, mencobanya, mengamati hasilnya, dan memperbaikinya berdasarkan
pengalaman dan bukti.”
Sikap
seperti ini jauh lebih dekat dengan semangat keilmuan.
Guru tidak harus menerima semuanya tanpa berpikir
Ada hal lain yang juga penting.
Mengajak guru terbuka terhadap
perubahan tidak berarti meminta guru menerima setiap perubahan tanpa
pertanyaan.
Guru adalah seorang profesional.
Sebagai profesional, ia justru harus
mampu bertanya.
Mengapa pendekatan ini digunakan?
Apa dasar pemikirannya?
Apa bukti bahwa pendekatan ini dapat
membantu peserta didik?
Apa yang harus berubah dalam praktik
pembelajaran?
Apa yang mungkin menjadi kendala?
Bagaimana keberhasilannya dapat
diketahui?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan
tanda bahwa guru menolak perubahan.
Justru pertanyaan tersebut
menunjukkan bahwa guru sedang menempatkan dirinya sebagai pembelajar
profesional.
Guru yang kritis tidak sama dengan
guru yang menolak.
Demikian pula guru yang menerima
perubahan tidak selalu berarti guru yang memahami perubahan.
Yang kita harapkan adalah guru yang terbuka
sekaligus kritis.
Terbuka terhadap kemungkinan bahwa
sesuatu yang baru mungkin lebih baik.
Kritis untuk memastikan bahwa sesuatu yang baru memang layak diterapkan.
Sekolah
sebagai ruang belajar bersama
Perubahan kurikulum juga tidak
seharusnya menjadi urusan guru secara individual.
Sekolah perlu menjadi ruang belajar
bersama.
Guru dapat mendiskusikan pengalaman.
Kepala sekolah dapat memberikan
dukungan.
Guru dapat mencoba suatu pendekatan
dalam pembelajaran.
Hasilnya dapat diamati.
Kesulitan dapat dibicarakan.
Praktik yang berhasil dapat
dibagikan.
Praktik yang belum berhasil dapat
diperbaiki.
Dengan demikian, perubahan tidak
lagi dipahami sebagai instruksi dari atas yang harus segera dilaksanakan,
tetapi sebagai proses belajar bersama di tingkat sekolah.
Jika sekolah mampu membangun budaya seperti ini, perubahan kurikulum memiliki peluang yang lebih besar untuk menjadi perubahan praktik, bukan sekadar perubahan administrasi.
Jangan
sampai pengalaman masa lalu menjadi penghalang masa depan
Guru senior memiliki sesuatu yang
sangat berharga: pengalaman.
Pengalaman bertahun-tahun di ruang
kelas tidak dapat digantikan begitu saja oleh sebuah pelatihan.
Namun pengalaman memiliki dua
kemungkinan.
Pengalaman dapat menjadi sumber
kebijaksanaan.
Tetapi pengalaman juga dapat menjadi
batas cara berpikir, jika setiap pengalaman masa lalu dianggap sebagai
bukti bahwa sesuatu yang baru pasti akan berakhir dengan cara yang sama.
Karena itu, tantangannya bukan
memilih antara pengalaman atau perubahan.
Kita justru perlu mempertemukan
keduanya.
Pengalaman memberi kita pijakan.
Ilmu memberikan cara untuk menguji.
Perubahan memberikan kemungkinan.
Refleksi membantu kita menentukan
apa yang harus dipertahankan dan apa yang perlu diperbaiki.
Dalam posisi seperti ini, guru
senior dan guru muda sesungguhnya memiliki peran yang saling melengkapi.
Guru senior memiliki pengalaman yang
panjang.
Guru yang lebih muda mungkin membawa
perspektif baru.
Keduanya dapat belajar satu sama
lain.
Yang dibutuhkan bukan pergantian generasi dalam cara berpikir, tetapi dialog antargenerasi dalam pendidikan.
Pada
akhirnya, yang harus berubah bukan hanya kurikulum nya
Kurikulum dapat berubah
berkali-kali.
Tetapi perubahan kurikulum tidak
akan banyak berarti jika tidak diikuti dengan proses perubahan dalam cara kita
memahami pendidikan.
Kita perlu bertanya kembali:
Apa tujuan pendidikan yang ingin
kita capai?
Apa yang sebenarnya dibutuhkan
peserta didik?
Bagaimana peserta didik belajar?
Bagaimana guru seharusnya
menjalankan perannya?
Bagaimana sekolah menciptakan
lingkungan belajar?
Dan bagaimana kita mengetahui bahwa
perubahan yang kita lakukan benar-benar menghasilkan perbaikan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut
membuat perubahan kurikulum menjadi lebih dari sekadar pergantian dokumen.
Ia menjadi kesempatan untuk belajar
kembali tentang pendidikan.
Mungkin kita tidak dapat menjamin
bahwa setiap perubahan kurikulum akan menghasilkan perubahan besar.
Tidak ada kebijakan pendidikan yang
dapat menjamin keberhasilan secara otomatis.
Tetapi kita dapat memilih bagaimana
kita menyikapinya.
Kita dapat memilih untuk mengatakan:
“Saya sudah pernah mengalami
semuanya. Tidak ada gunanya mencoba lagi.”
Atau kita dapat mengatakan:
“Saya sudah memiliki banyak
pengalaman. Mari kita gunakan pengalaman itu untuk melihat apakah perubahan
kali ini dapat dilakukan dengan lebih baik.”
Pilihan kedua bukan berarti naif.
Ia justru membutuhkan keberanian.
Sebab seorang guru yang telah
berkali-kali mengalami perubahan mungkin memiliki alasan yang cukup kuat untuk
menjadi skeptis.
Namun seorang profesional juga memiliki tanggung jawab untuk terus menguji keyakinannya sendiri.
Pengalaman boleh membentuk
keyakinan, tetapi pengalaman tidak seharusnya membelenggu pikiran.
Kurikulum boleh berubah.
Kebijakan boleh berubah.
Pendekatan pembelajaran boleh
berkembang.
Tetapi yang paling penting adalah
bagaimana kita sebagai pendidik terus bersedia belajar, menguji,
merefleksikan, dan memperbaiki praktik pendidikan kita.
Sebab pada akhirnya, perubahan pendidikan
tidak terjadi ketika sebuah dokumen baru diterbitkan.
Perubahan
mulai terjadi ketika guru di ruang kelas bersedia melihat kembali cara berpikir
dan cara mengajarnya—bukan karena ia diperintah untuk berubah, tetapi karena ia
menemukan alasan keilmuan dan profesional untuk berubah.
