Gambar Ilustrasi PM/KKA |
Oleh :Asmanul Asri.M.Pd
Seorang
Guru bertanya kepada Saya, bolehkan saya menggunakan AI untuk membuat
administrasi pembelajaran seperti menyusun soal, membuat LKPD, Materi ajar dan
lainnya ?
apakah itu legal ?. Apakah pekerjaan AI itu pasti benar ?. Pertanyaan sederhana, tetapi bagi Saya sebagai seorang Pengawas Sekolah pertanyaan ini menarik untuk di ulas.
Dalam penerapan Deep Learning salah satu
kerangka pembelajarannya adalah pemanfaatan digital, selain itu muatan
kurikulum mulai memasukkan Koding dan Kecerdasan Artifisial [KKA] sebagai mata
pelajaran di sekolah. Ini menunjukkan bahwa penmanfaatan digital baik oleh guru
maupun oleh siswa adalah suatu keniscayaan.
Menyusun
soal, lembar kerja, bahan ajar, tugas-tugas Pelatihan ,IHT, tugas kuliah dll adalah
pekerjaan yang menyita banyak waktu dan tenaga guru/mahasiswa. Kehadiran
kecerdasan buatan (AI) terasa seperti oase ditengah padang pasir. Namun
demikian dibalik antusiame itu ternyata tersimpan keraguan. Bagaimana kita
menjelaskan pertanyaan – pertanyaan di atas ?.
Satu
hal perlu diingat sejak awal: AI adalah asisten, bukan pengganti guru. Etis
atau tidaknya penggunaan AI ditentukan oleh cara kita memakainya, bukan oleh
alatnya.
Mengapa Guru Perlu Melek AI
AI
dapat membantu pekerjaan rutin seperti membuat
soal, materi ajar, LKPD bahan presentasi atau menyesuaikan bahasa
bacaan. Dengan demikian waktu dan tenaga bisa dialihkan untuk hal yang tidak
bisa digantikan AI: mengenal murid satu per satu, memberi umpan balik yang
bermakna, mendidik dan melatih mereka agar ranah kognitif, afektif dan
psikomotor dapat terkelola secara maksimal.
Sebaliknya,
guru yang tidak memahami AI berisiko memakainya secara keliru: menerima
informasi salah begitu saja, bergantung berlebihan, atau menyalahgunakannya,
bahkan tanpa disadari Anda yang menjadi asisten AI.
Empat Prinsip Etis dalam Penggunaan AI Oleh Guru/Mahasiswa
- Jujur. Terbuka tentang penggunaan AI, terutama kepada murid
dan rekan sejawat.
- Bertanggung jawab. Guru/Mahasiswa tetap penanggung jawab akhir atas
produk yang dibaut.
- Aman. Melindungi data pribadi . Jangan memasukkan nama,
nilai individual, atau informasi sensitif lainnya ke alat AI.
- Berpihak pada keilmuan dan kepentingan belajar . AI membantu proses pembelajaran, bukan menggantikan proses berpikir .
Menyusun Soal dengan AI: Langkah Praktis untuk Guru
Langkah 1: Tentukan tujuan
pembelajaran . Rumuskan tujuan dan indikator
terlebih dahulu. Jangan menyerahkan hal ini kepada AI, karena guru yang paling
memahami kebutuhan kelasnya.
Langkah 2: Tulis perintah (prompt)
yang jelas. Sertakan jenjang, mata pelajaran,
materi, jumlah soal, tingkat kesulitan, dan bentuk soal. Semakin spesifik
perintahnya, semakin berguna hasilnya.
Contoh prompt untuk IPS:
"Buatkan 5 soal uraian berpikir
kritis untuk kelas IX materi interaksi sosial dan dinamika masyarakat, dengan
konteks kehidupan Batam sebagai kota industri. Sertakan kunci jawaban dan
rubrik penilaian singkat."
Langkah 3: Minta variasi. Mintalah beberapa bentuk soal, misalnya pilihan ganda,
uraian, dan soal berbasis kasus, lalu pilih yang paling sesuai.
Langkah 4: Periksa dan revisi. Ini langkah terpenting, ingat AI adalah “asisten” Anda. Cek
kebenaran jawaban, kesesuaian dengan kurikulum, kejelasan bahasa, dan ada
tidaknya soal yang ambigu, serta kesesuaian dengan murid Anda.
Langkah 5: Lakukan Uji coba. Mintalah rekan guru atau beberapa murid mencoba soal
tersebut sebelum dipakai secara resmi.
Menyusun Bahan Ajar dengan AI
AI
dapat membantu membuat draf ringkasan materi, analogi, cerita pembuka, dan
studi kasus. AI juga berguna untuk menyesuaikan tingkat bahasa bagi murid
dengan kemampuan berbeda (diferensiasi), atau menyusun kerangka lembar kerja
dan kuis yang kemudian Anda rapikan di aplikasi seperti Canva, cap-cup dsb.
Meski
begitu, AI cenderung memberi contoh yang umum. Tambahkan konteks lokal dan
pengalaman Anda sendiri agar bahan ajar terasa dekat dengan murid. Berikan
contoh: bagaimana Anda mengaitkan materi dengan lingkungan sekitar, misalnya
urbanisasi di Batam, kebutuhan tenaga kerja, atau kawasan industri di Batam.
Hal yang Harus Diwaspadai
- Informasi keliru. AI bisa menghasilkan fakta, tanggal, atau kutipan yang
terdengar meyakinkan tetapi salah. Selalu verifikasi ke buku teks atau
sumber resmi.
- Bias dan konten tidak sesuai
usia. Periksa muatan dan sudut
pandang yang muncul.
- Plagiarisme dan hak cipta. Cek kemiripan, dan jangan menyalin materi berhak cipta
mentah-mentah ke dalam prompt.
- Privasi murid. Hindari memasukkan data pribadi ke alat AI.
- Ketergantungan. Jangan sampai kemampuan guru menyusun dan menganalisis
soal justru menurun, ingat ! Andalah Guru bukan AI.
- Kesenjangan akses. Tidak semua guru dan murid memiliki perangkat dan koneksi yang sama, terutama di daerah 3T.
Daftar Periksa Etika untuk Guru
Sebelum
membagikan soal atau bahan ajar hasil bantuan AI, tanyakan pada diri sendiri,
buatlah daftar ceklist untuk memastikan bahwa hasil pekerjaan “asisten” Anda
sudah Anda verifikasi.
- Apakah saya sudah menentukan
tujuan pembelajaran sendiri?
- Apakah saya sudah memeriksa
kebenaran isi soal dan kunci jawaban?
- Apakah materi sudah sesuai
kurikulum dan kebutuhan murid saya?
- Apakah saya memastikan tidak
ada data pribadi murid yang dimasukkan?
- Apakah saya sudah memeriksa
kemiripan dan hak cipta?
- Apakah saya siap menjelaskan
bagaimana AI membantu saya?
Bagaimana dengan Murid?
Melarang
AI sepenuhnya jarang efektif. Lebih baik ajarkan murid memakainya secara
bertanggung jawab. Buat kesepakatan kelas tentang kapan AI boleh dan tidak
boleh dipakai, serta wajibkan murid menyebutkan bantuan AI pada tugas mereka.
Rancang
pula tugas yang menuntut proses berpikir, refleksi pribadi, dan diskusi,
sehingga tidak bisa diselesaikan hanya dengan menyalin jawaban dari AI sehingga
eksistensi mereka sebagai manusia tetap terlindungi.
Penutup
AI
dapat mempercepat pekerjaan guru/Mahasiswa,kita boleh menggunakannya dan itu
legal tetapi pertimbangan pedagogis dan akademik tetap berada di tangan kita. AI
dapat melakukan kesalahan, Guru/Mahasiswa harus bijak menggunakannya. AI bukan
untuk mematikan kemampuan berpikir, melainkan untuk menghemat waktu/tenaga agar
dapat digunakan untuk pekerjaan lainnya.
Bagaimana pengalaman Bapak/Ibu memakai AI di kelas? Silakan bagikan di kolom komentar, dan mari belajar bersama. Salam literasi...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar