Jumat, 06 November 2026

Membangun Budaya Menulis sebagai Strategi Penguatan Literasi Sekolah.

Foto Ilustrasi by :wallpapers.com

Menulis Bukan Sekadar Tugas: Belajar dari Anne Frank tentang Literasi Anak

Ketika tulisan seorang anak menjadi ruang untuk berpikir, berefleksi, dan menemukan dirinya

Ada seorang anak perempuan yang gemar menulis.

Ia menulis tentang apa yang dialaminya, apa yang dipikirkannya, apa yang membuatnya takut, apa yang membuatnya bahagia, tentang keluarganya, teman-temannya, sekolah, cita-cita, dan tentang dirinya

sendiri. Dialah Anne Frank.

Pada 12 Juni 1942, ketika berusia 13 tahun, Anne menerima sebuah buku harian sebagai hadiah ulang tahun. Ia sendiri yang memilih buku tersebut. Dua hari kemudian, ia mulai menulis di dalamnya.

Pada awalnya, buku itu hanyalah milik seorang anak perempuan yang ingin mempunyai tempat untuk mencurahkan isi pikirannya.

Anne bahkan membayangkan buku hariannya sebagai seorang sahabat. Ia kemudian menulis banyak surat kepada tokoh imajinernya yang bernama Kitty yaitu bukua hariannya.

Tidak ada yang mengetahui bahwa tulisan seorang anak berusia 13 tahun itu kelak akan menjadi salah satu karya yang paling dikenal di dunia.

Tetapi justru di sinilah kisah Anne Frank menjadi menarik bagi dunia pendidikan.

Bukan hanya karena bukunya terkenal. yakni Het Achterhuis (The Secret Annex) yang kemudian populer demngan judul The Diary of a Young Girl

Melainkan karena kisah itu mengajak kita bertanya:

Apakah anak-anak kita menulis karena mereka memiliki sesuatu yang ingin disampaikan, atau karena guru meminta mereka menulis?

Menulis karena tugas

Di sekolah, anak-anak sebenarnya cukup sering menulis.

Mereka menulis jawaban soal, membuat karangan, menyusun laporan, merangkum bacaan, membuat makalah, dan menyelesaikan berbagai tugas lainnya.

Tetapi apakah semua itu otomatis berarti kita telah membangun budaya menulis?

Belum tentu.

Ada perbedaan antara anak yang terbiasa menulis dan anak yang memiliki kebiasaan menulis.

Anak yang terbiasa menulis mungkin akan menulis ketika ada tugas.

Tetapi anak yang memiliki kebiasaan menulis akan mencari kesempatan untuk menulis meskipun tidak ada yang menyuruhnya.

Anne Frank memberikan sebuah contoh yang menarik.

Ia menulis karena memiliki sesuatu yang ingin dikatakan.

Ia memiliki pengalaman.

Ia memiliki perasaan.

Ia memiliki pertanyaan.

Ia memiliki kegelisahan.

Ia memiliki cita-cita.

Dan ia membutuhkan ruang untuk mengungkapkan semuanya.

Menulis sebagai cara berpikir

Kita sering melihat menulis hanya sebagai salah satu keterampilan berbahasa.

Padahal, menulis juga merupakan cara manusia berpikir.

Ketika seorang anak menulis:

"Hari ini saya kecewa kepada teman saya."

kalimat itu dapat menjadi awal dari proses berpikir:

Mengapa saya kecewa? Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah saya juga melakukan kesalahan? Bagaimana seharusnya saya bersikap?

Ketika seorang siswa menulis:

"Hari ini saya baru memahami mengapa tumbuhan membutuhkan cahaya."

ia bukan sekadar mencatat materi pelajaran.

Ia sedang menghubungkan pengetahuan baru dengan pemahaman yang telah dimilikinya.

Karena itu, menulis dapat menjadi jalan bagi anak untuk mengolah pengalaman menjadi pemikiran.

Yang semula hanya ada di dalam kepala dituangkan menjadi kata-kata.

Setelah menjadi tulisan, anak dapat membacanya kembali, mempertanyakannya, memperbaikinya, dan mengembangkannya.

Dengan demikian:

Menulis → berpikir → merefleksi → memahami → menemukan makna.

Inilah salah satu alasan mengapa budaya menulis penting dibangun sejak anak-anak.

Anne Frank tidak hanya menulis, ia berkembang sebagai penulis

Ada satu fakta tentang Anne Frank yang menarik dan sering luput dari perhatian.

Anne tidak berhenti pada menulis buku harian.

Seiring waktu, ia mulai berkembang sebagai seorang penulis. Ia menulis cerita pendek dan bahkan memiliki keinginan untuk menjadi penulis atau jurnalis. Pada 1944, setelah mendengar seruan pemerintah Belanda untuk menyimpan catatan tentang masa pendudukan, Anne mulai menulis ulang sebagian buku hariannya dengan tujuan agar suatu hari dapat diterbitkan.

Dengan kata lain, kita dapat melihat adanya perkembangan:

anak yang suka menulis → penulis yang mulai menyadari dirinya sebagai penulis.

Ini adalah sesuatu yang penting dalam pendidikan.

Anak tidak hanya perlu belajar keterampilan menulis.

Anak juga perlu membangun identitas sebagai penulis.

Bukan hanya:

"Saya bisa menulis."

Tetapi:

"Saya adalah seseorang yang mempunyai sesuatu untuk ditulis."

Jangan terlalu cepat mengoreksi tulisan anak

Di sinilah kita perlu sedikit bercermin pada praktik pendidikan kita.

Ketika anak mulai menulis, kita sering langsung melihat kesalahannya.

Ejaannya salah.

Tanda bacanya kurang.

Kalimatnya belum efektif.

Paragrafnya belum rapi.

Kosakatanya terbatas.

Semua itu tentu penting untuk diperbaiki.

Tetapi ada pertanyaan yang mungkin lebih mendasar:

Sebelum kita memperbaiki cara anak menulis, apakah kita sudah memberi mereka sesuatu yang ingin mereka katakan?

Jangan sampai anak akhirnya menganggap menulis sebagai aktivitas yang penuh kesalahan dan koreksi.

Jangan sampai setiap kali membuka buku, yang muncul dalam pikirannya justru:

"Nanti salah lagi."

Padahal keberanian untuk menyampaikan gagasan adalah modal awal yang sangat penting.

Mungkin pada tahap awal kita perlu lebih sering bertanya:

"Apa yang ingin kamu ceritakan?"

sebelum bertanya:

"Mengapa tulisanmu banyak salah?"

Bukan berarti kesalahan dibiarkan.

Kemampuan teknis tetap perlu diajarkan.

Tetapi mungkin urutannya perlu kita pikirkan kembali:

tumbuhkan keberanian menulis, kemudian kembangkan keterampilan menulis.

Sekolah perlu menyediakan ruang untuk menulis

Lalu bagaimana sekolah dapat membangun budaya menulis?

Mungkin kita tidak perlu memulainya dengan program yang rumit.

Salah satu cara sederhana adalah menyediakan Jurnal Refleksi Siswa.

Setiap anak memiliki sebuah buku khusus.

Bukan buku tugas.

Bukan buku yang setiap halamannya harus diberi nilai.

Bukan pula buku yang harus selalu diperiksa dengan tinta merah.

Buku tersebut menjadi ruang bagi anak untuk merekam perjalanan pikirannya.

Guru dapat memberikan pertanyaan pemantik sederhana:

Hari ini saya belajar bahwa...

Hal yang membuat saya berpikir adalah...

Sesuatu yang sebelumnya saya pikir benar, tetapi sekarang saya pikir berbeda adalah...

Pertanyaan yang masih ada dalam pikiran saya adalah...

Sesuatu yang ingin saya coba lakukan adalah...

Jika saya menjadi guru, saya akan...

Pertanyaan sederhana semacam ini dapat mengubah kegiatan menulis menjadi kegiatan berpikir.

Dan yang tidak kalah penting, anak belajar bahwa pemikirannya berharga.

Menulis dan Pembelajaran Mendalam

Gagasan ini juga dapat kita hubungkan dengan semangat Pembelajaran Mendalam.

Pembelajaran tidak berhenti pada pertanyaan:

Apa yang kamu pelajari?

Tetapi bergerak lebih jauh:

Apa makna dari apa yang kamu pelajari?

Dan kemudian:

Bagaimana pembelajaran itu mengubah pemahaman, sikap, atau tindakanmu?

Jurnal refleksi dapat menjadi salah satu ruang untuk proses tersebut.

Misalnya, setelah belajar tentang lingkungan, seorang siswa menulis:

"Hari ini saya baru memahami bahwa sampah yang saya buang tidak benar-benar hilang. Ia hanya berpindah tempat. Saya jadi berpikir bahwa kebiasaan saya membuang sampah sembarangan ternyata memiliki dampak kepada orang lain. Mulai besok saya ingin membawa botol minum sendiri."

Tulisan tersebut bukan sekadar latihan bahasa.

Di dalamnya terdapat pengetahuan, refleksi, kesadaran, nilai, dan rencana tindakan.

Di situlah pembelajaran menjadi lebih bermakna.

Jangan hanya mengajari anak bagaimana menulis

Mungkin inilah salah satu pelajaran yang dapat kita ambil dari Anne Frank.

Jangan hanya mengajari anak bagaimana menulis.

Berilah mereka alasan untuk ingin menulis.

Berikan mereka pengalaman.

Berikan mereka kesempatan membaca.

Berikan mereka pertanyaan.

Berikan mereka ruang untuk berpikir.

Dan yang tidak kalah penting, berikan mereka seseorang yang mau membaca tulisan mereka dengan sungguh-sungguh.

Sebab mungkin yang dibutuhkan seorang anak bukan hanya guru yang mengatakan:

"Tulisanmu masih banyak yang salah."

Tetapi seorang guru yang berkata:

"Saya ingin tahu apa yang sebenarnya ingin kamu ceritakan."

Dari sanalah budaya menulis mungkin mulai tumbuh.

Kita tidak sedang mencari Anne Frank yang baru

Tentu saja, kita tidak sedang mengatakan bahwa setiap anak yang gemar menulis akan menjadi Anne Frank.

Bukan itu persoalannya.

Anne Frank adalah bagian dari sejarah yang sangat khusus dan tragis.

Yang dapat kita pelajari adalah sesuatu yang lebih sederhana:

Sebuah tulisan seorang anak ternyata memiliki nilai.

Tulisan anak bukan sesuatu yang boleh kita anggap remeh hanya karena ditulis oleh seorang anak.

Di balik tulisan yang sederhana mungkin terdapat pemikiran yang sedang tumbuh.

Di balik cerita yang tampak biasa mungkin terdapat pengalaman yang sangat berarti bagi anak.

Dan di balik sebuah buku catatan yang tampaknya tidak penting mungkin sedang terbentuk seseorang yang sedang belajar memahami dirinya dan dunia.

Dari sebuah buku harian menjadi suara dunia

Anne Frank akhirnya tidak sempat melihat bukunya diterbitkan.

Setelah perang, ayahnya, Otto Frank—satu-satunya anggota keluarga inti yang selamat—mengumpulkan dan menyunting berbagai tulisan Anne. Het Achterhuis (The Secret Annex) diterbitkan di Belanda pada 25 Juni 1947. Edisi pertama dicetak sebanyak 3.036 eksemplar.

Anne sebelumnya memang telah membayangkan tulisannya sebagai sebuah buku.

Apa yang bermula sebagai catatan seorang anak akhirnya menjadi karya yang dibaca di berbagai belahan dunia dan telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 70 bahasa.

Tentu, kita tidak pernah tahu ke mana sebuah tulisan anak akan pergi.

Mungkin tulisan itu hanya tersimpan di sebuah buku.

Mungkin hanya dibaca oleh gurunya.

Mungkin hanya dibaca oleh orang tuanya.

Tetapi mungkin juga, tulisan itu sedang menjadi tempat seorang anak belajar berpikir, mengenal dirinya, memahami dunia, dan menemukan suaranya sendiri.

Anne Frank menulis sebagai seorang anak.

Dunia kemudian membacanya sebagai sebuah suara kemanusiaan.

Maka, jangan pernah meremehkan tulisan seorang anak.

Bisa jadi, di dalam tulisan sederhana yang sedang kita baca, terdapat sebuah dunia yang sedang tumbuh.

Sebuah pertanyaan untuk kita

Pada akhirnya, mungkin ada satu kesimpulan yang layak kita bawa pulang:

Jika Ingin Meningkatkan Literasi Sekolah, Mengapa Kita Tidak Membangun Budaya Menulis? Jika masalah literasi sekolah adalah kemampuan peserta didik dalam memahami, mengolah, menggunakan, dan mengomunikasikan informasi, maka membangun budaya menulis layak dipertimbangkan sebagai salah satu strategi penguatannya. Sebab menulis tidak hanya melatih kemampuan berbahasa, tetapi juga memaksa peserta didik untuk berpikir, mengolah informasi, menyusun gagasan, memberikan alasan, merefleksikan pengalaman, dan memperbaiki pemahamannya.

Apakah sekolah kita ingin menghasilkan anak yang mampu menulis karena mendapat tugas, atau anak yang menulis karena memiliki sesuatu yang ingin disampaikan?

Jawaban atas pertanyaan itu mungkin menentukan seperti apa budaya literasi yang sedang kita bangun.

Karena itu:

Jangan hanya mengajari anak bagaimana menulis. Berilah mereka alasan untuk ingin 

Tidak ada komentar:

⭐ Pilihan Untuk Anda

Membangun Budaya Menulis sebagai Strategi Penguatan Literasi Sekolah.

Foto Ilustrasi by : wallpapers.com Menulis Bukan Sekadar Tugas: Belajar dari Anne Frank tentang Literasi Anak Ketika tulisan seorang anak ...