![]() |
| Foto Ilustrasi by :wallpapers.com |
Ketika tulisan seorang anak menjadi
ruang untuk berpikir, berefleksi, dan menemukan dirinya
Ada seorang anak perempuan yang
gemar menulis.
Ia menulis tentang apa yang dialaminya, apa yang dipikirkannya, apa yang membuatnya takut, apa yang membuatnya bahagia, tentang keluarganya, teman-temannya, sekolah, cita-cita, dan tentang dirinya
sendiri. Dialah Anne Frank.Pada 12 Juni 1942, ketika berusia 13
tahun, Anne menerima sebuah buku harian sebagai hadiah ulang tahun. Ia sendiri
yang memilih buku tersebut. Dua hari kemudian, ia mulai menulis di dalamnya.
Pada awalnya, buku itu hanyalah milik seorang anak perempuan yang ingin mempunyai tempat untuk
mencurahkan isi pikirannya.
Anne bahkan membayangkan buku
hariannya sebagai seorang sahabat. Ia kemudian menulis banyak surat kepada
tokoh imajinernya yang bernama Kitty yaitu bukua hariannya.
Tidak ada yang mengetahui bahwa
tulisan seorang anak berusia 13 tahun itu kelak akan menjadi salah satu karya
yang paling dikenal di dunia.
Tetapi justru di sinilah kisah Anne
Frank menjadi menarik bagi dunia pendidikan.
Bukan hanya karena bukunya terkenal. yakni
Melainkan karena kisah itu mengajak
kita bertanya:
Apakah anak-anak kita menulis karena
mereka memiliki sesuatu yang ingin disampaikan, atau karena guru meminta mereka
menulis?
Menulis karena tugas
Di sekolah, anak-anak sebenarnya
cukup sering menulis.
Mereka menulis jawaban soal, membuat
karangan, menyusun laporan, merangkum bacaan, membuat makalah, dan
menyelesaikan berbagai tugas lainnya.
Tetapi apakah semua itu otomatis
berarti kita telah membangun budaya menulis?
Belum tentu.
Ada perbedaan antara anak yang
terbiasa menulis dan anak yang memiliki kebiasaan menulis.
Anak yang terbiasa menulis mungkin
akan menulis ketika ada tugas.
Tetapi anak yang memiliki kebiasaan
menulis akan mencari kesempatan untuk menulis meskipun tidak ada yang
menyuruhnya.
Anne Frank memberikan sebuah contoh
yang menarik.
Ia menulis karena memiliki sesuatu
yang ingin dikatakan.
Ia memiliki pengalaman.
Ia memiliki perasaan.
Ia memiliki pertanyaan.
Ia memiliki kegelisahan.
Ia memiliki cita-cita.
Dan ia membutuhkan ruang untuk
mengungkapkan semuanya.
Menulis sebagai cara berpikir
Kita sering melihat menulis hanya
sebagai salah satu keterampilan berbahasa.
Padahal, menulis juga merupakan cara
manusia berpikir.
Ketika seorang anak menulis:
"Hari ini saya kecewa kepada
teman saya."
kalimat itu dapat menjadi awal dari
proses berpikir:
Mengapa saya kecewa? Apa yang
sebenarnya terjadi? Apakah saya juga melakukan kesalahan? Bagaimana seharusnya
saya bersikap?
Ketika seorang siswa menulis:
"Hari ini saya baru memahami
mengapa tumbuhan membutuhkan cahaya."
ia bukan sekadar mencatat materi
pelajaran.
Ia sedang menghubungkan pengetahuan
baru dengan pemahaman yang telah dimilikinya.
Karena itu, menulis dapat menjadi
jalan bagi anak untuk mengolah pengalaman menjadi pemikiran.
Yang semula hanya ada di dalam
kepala dituangkan menjadi kata-kata.
Setelah menjadi tulisan, anak dapat
membacanya kembali, mempertanyakannya, memperbaikinya, dan mengembangkannya.
Dengan demikian:
Menulis → berpikir → merefleksi →
memahami → menemukan makna.
Inilah salah satu alasan mengapa
budaya menulis penting dibangun sejak anak-anak.
Anne Frank tidak hanya menulis, ia berkembang sebagai penulis
Ada satu fakta tentang Anne Frank
yang menarik dan sering luput dari perhatian.
Anne tidak berhenti pada menulis
buku harian.
Seiring waktu, ia mulai berkembang
sebagai seorang penulis. Ia menulis cerita pendek dan bahkan memiliki keinginan
untuk menjadi penulis atau jurnalis. Pada 1944, setelah mendengar seruan
pemerintah Belanda untuk menyimpan catatan tentang masa pendudukan, Anne mulai
menulis ulang sebagian buku hariannya dengan tujuan agar suatu hari dapat
diterbitkan.
Dengan kata lain, kita dapat melihat
adanya perkembangan:
anak yang suka menulis → penulis
yang mulai menyadari dirinya sebagai penulis.
Ini adalah sesuatu yang penting
dalam pendidikan.
Anak tidak hanya perlu belajar keterampilan
menulis.
Anak juga perlu membangun identitas
sebagai penulis.
Bukan hanya:
"Saya bisa menulis."
Tetapi:
"Saya adalah seseorang yang
mempunyai sesuatu untuk ditulis."
Jangan terlalu cepat mengoreksi tulisan anak
Di sinilah kita perlu sedikit
bercermin pada praktik pendidikan kita.
Ketika anak mulai menulis, kita
sering langsung melihat kesalahannya.
Ejaannya salah.
Tanda bacanya kurang.
Kalimatnya belum efektif.
Paragrafnya belum rapi.
Kosakatanya terbatas.
Semua itu tentu penting untuk
diperbaiki.
Tetapi ada pertanyaan yang mungkin
lebih mendasar:
Sebelum kita memperbaiki cara anak
menulis, apakah kita sudah memberi mereka sesuatu yang ingin mereka katakan?
Jangan sampai anak akhirnya
menganggap menulis sebagai aktivitas yang penuh kesalahan dan koreksi.
Jangan sampai setiap kali membuka
buku, yang muncul dalam pikirannya justru:
"Nanti salah lagi."
Padahal keberanian untuk
menyampaikan gagasan adalah modal awal yang sangat penting.
Mungkin pada tahap awal kita perlu
lebih sering bertanya:
"Apa yang ingin kamu
ceritakan?"
sebelum bertanya:
"Mengapa tulisanmu banyak
salah?"
Bukan berarti kesalahan dibiarkan.
Kemampuan teknis tetap perlu
diajarkan.
Tetapi mungkin urutannya perlu kita
pikirkan kembali:
tumbuhkan keberanian menulis,
kemudian kembangkan keterampilan menulis.
Sekolah perlu menyediakan ruang untuk menulis
Lalu bagaimana sekolah dapat
membangun budaya menulis?
Mungkin kita tidak perlu memulainya
dengan program yang rumit.
Salah satu cara sederhana adalah
menyediakan Jurnal Refleksi Siswa.
Setiap anak memiliki sebuah buku
khusus.
Bukan buku tugas.
Bukan buku yang setiap halamannya
harus diberi nilai.
Bukan pula buku yang harus selalu
diperiksa dengan tinta merah.
Buku tersebut menjadi ruang bagi
anak untuk merekam perjalanan pikirannya.
Guru dapat memberikan pertanyaan
pemantik sederhana:
Hari ini saya belajar bahwa...
Hal yang membuat saya berpikir
adalah...
Sesuatu yang sebelumnya saya pikir
benar, tetapi sekarang saya pikir berbeda adalah...
Pertanyaan yang masih ada dalam
pikiran saya adalah...
Sesuatu yang ingin saya coba lakukan
adalah...
Jika saya menjadi guru, saya akan...
Pertanyaan sederhana semacam ini
dapat mengubah kegiatan menulis menjadi kegiatan berpikir.
Dan yang tidak kalah penting, anak
belajar bahwa pemikirannya berharga.
Menulis dan Pembelajaran Mendalam
Gagasan ini juga dapat kita
hubungkan dengan semangat Pembelajaran Mendalam.
Pembelajaran tidak berhenti pada
pertanyaan:
Apa yang kamu pelajari?
Tetapi bergerak lebih jauh:
Apa makna dari apa yang kamu
pelajari?
Dan kemudian:
Bagaimana pembelajaran itu mengubah
pemahaman, sikap, atau tindakanmu?
Jurnal refleksi dapat menjadi salah
satu ruang untuk proses tersebut.
Misalnya, setelah belajar tentang
lingkungan, seorang siswa menulis:
"Hari ini saya baru memahami
bahwa sampah yang saya buang tidak benar-benar hilang. Ia hanya berpindah
tempat. Saya jadi berpikir bahwa kebiasaan saya membuang sampah sembarangan
ternyata memiliki dampak kepada orang lain. Mulai besok saya ingin membawa
botol minum sendiri."
Tulisan tersebut bukan sekadar
latihan bahasa.
Di dalamnya terdapat pengetahuan,
refleksi, kesadaran, nilai, dan rencana tindakan.
Di situlah pembelajaran menjadi
lebih bermakna.
Jangan hanya mengajari anak bagaimana menulis
Mungkin inilah salah satu pelajaran
yang dapat kita ambil dari Anne Frank.
Jangan hanya mengajari anak bagaimana
menulis.
Berilah mereka alasan untuk ingin
menulis.
Berikan mereka pengalaman.
Berikan mereka kesempatan membaca.
Berikan mereka pertanyaan.
Berikan mereka ruang untuk berpikir.
Dan yang tidak kalah penting,
berikan mereka seseorang yang mau membaca tulisan mereka dengan sungguh-sungguh.
Sebab mungkin yang dibutuhkan
seorang anak bukan hanya guru yang mengatakan:
"Tulisanmu masih banyak yang
salah."
Tetapi seorang guru yang berkata:
"Saya ingin tahu apa yang
sebenarnya ingin kamu ceritakan."
Dari sanalah budaya menulis mungkin
mulai tumbuh.
Kita tidak sedang mencari Anne Frank yang baru
Tentu saja, kita tidak sedang
mengatakan bahwa setiap anak yang gemar menulis akan menjadi Anne Frank.
Bukan itu persoalannya.
Anne Frank adalah bagian dari sejarah
yang sangat khusus dan tragis.
Yang dapat kita pelajari adalah
sesuatu yang lebih sederhana:
Sebuah tulisan seorang anak ternyata
memiliki nilai.
Tulisan anak bukan sesuatu yang
boleh kita anggap remeh hanya karena ditulis oleh seorang anak.
Di balik tulisan yang sederhana
mungkin terdapat pemikiran yang sedang tumbuh.
Di balik cerita yang tampak biasa
mungkin terdapat pengalaman yang sangat berarti bagi anak.
Dan di balik sebuah buku catatan
yang tampaknya tidak penting mungkin sedang terbentuk seseorang yang sedang
belajar memahami dirinya dan dunia.
Dari sebuah buku harian menjadi suara dunia
Anne Frank akhirnya tidak sempat
melihat bukunya diterbitkan.
Setelah perang, ayahnya, Otto
Frank—satu-satunya anggota keluarga inti yang selamat—mengumpulkan dan
menyunting berbagai tulisan Anne. Het Achterhuis (The Secret Annex)
diterbitkan di Belanda pada 25 Juni 1947. Edisi pertama dicetak sebanyak 3.036
eksemplar.
Anne sebelumnya memang telah
membayangkan tulisannya sebagai sebuah buku.
Apa yang bermula sebagai catatan
seorang anak akhirnya menjadi karya yang dibaca di berbagai belahan dunia dan
telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 70 bahasa.
Tentu, kita tidak pernah tahu ke
mana sebuah tulisan anak akan pergi.
Mungkin tulisan itu hanya tersimpan
di sebuah buku.
Mungkin hanya dibaca oleh gurunya.
Mungkin hanya dibaca oleh orang
tuanya.
Tetapi mungkin juga, tulisan itu
sedang menjadi tempat seorang anak belajar berpikir, mengenal dirinya,
memahami dunia, dan menemukan suaranya sendiri.
Anne Frank menulis sebagai seorang
anak.
Dunia kemudian membacanya sebagai
sebuah suara kemanusiaan.
Maka, jangan pernah meremehkan
tulisan seorang anak.
Bisa jadi, di dalam tulisan
sederhana yang sedang kita baca, terdapat sebuah dunia yang sedang tumbuh.
Sebuah pertanyaan untuk kita
Pada akhirnya,
mungkin ada satu kesimpulan yang layak kita bawa pulang:
Jika Ingin Meningkatkan Literasi Sekolah, Mengapa Kita
Tidak Membangun Budaya Menulis? Jika masalah literasi sekolah adalah kemampuan
peserta didik dalam memahami, mengolah, menggunakan, dan mengomunikasikan
informasi, maka membangun budaya menulis layak dipertimbangkan sebagai salah
satu strategi penguatannya. Sebab menulis tidak hanya melatih kemampuan
berbahasa, tetapi juga memaksa peserta didik untuk berpikir, mengolah
informasi, menyusun gagasan, memberikan alasan, merefleksikan pengalaman, dan
memperbaiki pemahamannya.
Apakah sekolah kita ingin
menghasilkan anak yang mampu menulis karena mendapat tugas, atau anak yang
menulis karena memiliki sesuatu yang ingin disampaikan?
Jawaban atas pertanyaan itu mungkin
menentukan seperti apa budaya literasi yang sedang kita bangun.
Karena itu:
Jangan hanya mengajari anak bagaimana menulis. Berilah mereka alasan untuk ingin

Tidak ada komentar:
Posting Komentar